3 Hal Yang Bisa Kamu Lakukan Saat Idemu Diserobot Orang Lain

Dunia yang kita tinggali ini nggak terasa sudah sangat sesak. Lebih dari 7 Miliar orang tinggal di dunia ini. Bisa dibayangkan betapa sulitnya untuk benar-benar membuat sebuah ide yang murni original. Bahkan, sudah dari jaman Thomas Alfa Edison istilah ‘Multiple Discoveries’ pun sering muncul.

Tetapi, walaupun kita sudah memaklumi sebuah fakta yang akurat pun, rasa kesal jika ide kita diserobot lebih dulu oleh orang lain tetap saja akan muncul. Iya, nggak? So, ada tiga cara yang bisa kamu lakukan jika idemu sudah terlanjur “dicuri” oleh orang lain:

1. Ingat, ide itu nggak ada apa-apanya kalo nggak ada eksekusi:

Kalian masih ingat MySpace atau Friendster? Pasti setuju dong kalau dua sosmed itu lebih dulu ada dibanding Facebook. Mark Zuckerberg bisa ngasih kita satu contoh yang baik kalau ide itu butuh eksekusi yang lebih baik ketimbang memperdebatkan siapa yang lebih dulu memiliki ide tersebut. Facebook bukanlah hal baru, namun satu yang mereka lakukan disini: mereka mengeksekusinya dengan lebih baik.

Jadi, jangan langsung shock kalau seseorang sudah lebih dulu meluncurkan produk yang sama persis dengan idemu. Bukan berarti mereka yang lebih dulu adalah mereka yang lebih baik. Nggak ada yang namanya produk sempurna, kalian pasti bisa dengan cepat menyimpulkan kekurangan dari produk-produk kompetitor kalian. Dengan begitu, kalian bisa memposisikan diri pada sesuatu yang lebih kuat.

Lagipula, meluncurkan produk terlalu cepat juga nggak baik. Contoh saja Foursquare, sebelumnya mereka meluncurkan produk sejenis bernama Dodgeball yang didesain dan dibuat sama baiknya. Toh, ternyata mereka keliru karena saat itu masih sedikit sekali orang yang punya smartphone untuk melakukan check-in.

2. Apa sih bedanya ide kamu dengan yang lain?

Mungkin beberapa dari kalian nggak begitu ingat bagaimana reaksi dunia saat Apple memperkenalkan pada kita apa itu iPod. Kebanyakan reaksi media dan netizens saat itu adalah, “Buat apa sih MP3 Player?” Mereka nggak salah sih bicara begitu, soalnya memang udah berapa banyak MP3 Player yang sudah lebih dulu ada. Nggak bisa dibayangkan, kalo Apple yang beberapa waktu sebelumnya meluncurkan slogan baru mereka “Think Different” ternyata “cuma” meluncurkan “produk revolusionernya” yaitu sebuah MP3 Player.

Tetapi, dari sini kita bisa belajar sesuatu. Hal yang membedakan soal iPod dari MP3 Player lainnya adalah integrasi. iPod nggak ada apa-apanya tanpa iTunes music store. Dan gilanya, iPod+iTunes lah yang akhirnya bisa merevolusi dunia musik saat itu. Mungkin itulah akhirnya yang membuat iPod menjadi sangat legend, karena mereka nggak cuma merevolusi suatu produk, tetapi suatu industri.

3. Move on dan mempersiapkan diri untuk memutar-balikkan keadaan

Kemungkikan terburuk tentu ada, ternyata kamu nggak menemukan jalan keluar sama sekali. Yasudahlah, pasrah saja. Mungkin memang belum rezekimu. Hal terakhir yang bisa kamu lakukan adalah kembali ke meja kerjamu, dan memikirkan ulang tentang ide dan konsepmu. Ketahuilah, ini bukan hal yang buruk. Kamu bukan loser pada fase ini.

Kamu boleh ambil contoh dari Odeo. Beberapa dari kamu paling nggak tahu apa Odeo itu, kan? Odeo adalah podcast app yang bener-bener udah diambang kematian. Saat itu Apple mengumumkan bahwa iPod sudah memiliki platform podcastnya sendiri. Sadar bahwa pintu sudah tertutup, Odeo nggak begitu saja menyerah. Tim mereka segera melakukan brainstorming, bahkan mengadakan berbagai hackathon untuk mencari apa yang dapat mereka lakukan. Singkat cerita, sebuah ide pun ditemukan. Odeo banting setir menjadi sebuah produk bernama Twitter, dan selanjutnya kamu bisa bayangkan sendiri.

Melihat orang lain koar-koar bahwa penemuan mereka adalah hasil dari ide mereka sendiri yang faktanya itu adalah idemu memang nggak mungkin menyenangkan. Tetapi coba diingat-ingat bahwa bisa jadi ini adalah berkah yang terselubung. Intinya, jangan menyerah. Pada akhirnya sesuatu bukan bekerja karena hanya kamu seorang. (Inc., 2015)

Adith Widya Pradipta

Suka startup, tapi gak punya startup. Suka teknologi, tapi gakbisa coding. Makanya nulis dulu aja kali, ya?